Pembatasan jumlah anak(tahdidunnasl) tanpa alasan yang jelas, dalam islam hukumnnya terlarang.Namun, pengaturan jarak (tandzhimunnasl) kehamilan hukumnya diperbolehkan. Bahkan, isyarat pengaturan jarak kehamilan ini tampak dalam arahan untuk menyusui bayi selama dua tahun. Allah berfirman, “para ibu hendaklah menyusukan anak anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya” (QS.Al Baqarah 2:233)
Pengaturan jarak kehamilan memang perlu diperhatikan agar proses tarbiyatul awald (mendidik dan merawat anak secara jasmani dan ruhani) setiap anak cukup terperhatikan. Apalagi, jarak antara dua kehamilan yang terlalu dekat seringkali menimbulkan efek kurang baik pada kesehatan ibu dan bayi.
Jadi, meskipun tindakan mencegah terjadinya kehamilan masih dapat dibenarkan, namun alasannya harus benar. Pencegahan kehamilan yang dilakukan dengan alasan takut miskin, tidak mau repot, dan sejenisnya maka hal itu terlarang. Alasan alasan semacam itu banyak dilakukan oleh orang orang dizaman jahiliyah dulu dan digambarkan dalam Al Qur’an :
“katakanlah (Muhammad), ‘marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukanNya dengan apapun, berbuat baik kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka;…..” (QS. Al An’am 6:151)
“dan janganlah kamu membunuh anak anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar” (QS. Al Isra’ 17:31)
Secara syar’I pencegahan kehamilan diperbolehkan dengan prinsip mencegah pertemuan ovum dan sperma. Namun kita harus menimbang betul cara apa yang harus dipilih, jangan sampai membunuh atau memilih alat yang memiliki efek samping yang besar, seperti tercantum dalam Al Qur’an,
“sungguh rugi mereka yang membunuh anak anaknya karena kebodohan tanpa pengetahuan…..” (QS. Al An’am 6:140)
Pasangan yang hendak melakukan pencegahan kehamilan diharapkan untuk selalu mengingat wasiat Rasulullah saw untuk beranak banyak sebelum mengambil keputusan. Bukankah Rasulullah menyukai umatnya yang banyak? Jadi apapun keputusan yang diambil nantinya diharapkan sudah melewati proses pemahaman yang benar.
Menurut Dr Prita Kusumaningsih, SpOG, dokter spesialis kandungan, menyusui pasca persalinan akan menghambat ovulasi (pematangan sel telur) pada seorang wanita. Ini berarti tingkat kesuburan ibu akan ditekan. Prosesnya sendiri melibatkan unsure hormone, rangsangan syaraf dan organ. Bila rangsangan syaraf dari putting susu maka akan mengakibatkan kegagalan ovulasi. Namun, efektifitas menyusui sebagai penghambat ovulasi ini amat dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu : ASI diberikan secara ekslusif (hanya ASI saja) pada enam bulan pertama setelah melahirkan, lamanya menyusu lebih dari 60 menit sehari, dan tidak memberikan makanan tambahan pada bayi sebelum bayi berusia 6 bulan.
Berdasarkan penelitian dari Gray (1987), memang belum jelas benar kapankah waktu yang pasti dari kembalinya kesuburan ibu setelah melahirkan. Ada kemungkinan ovulasi terjadi sebelum haid pertama pasca melahirkan. Namun, dari seluruh penelitian yang ada, terbukti bahwa selama ibu hanya memberikan ASI pada bayinya dan tidak haid, maka sangat kecil kemungkinan akan terjadi kehamilan sebelum tiga bulan pasca melahirkan.
Untuk mengatur jarak kehamilan tersedia dua macam cara, ada yang dengan alat kontrasepsi (kondom, pil, suntik dll) dan tanpa alat kontrasepsi (pantang berkala). Alat kontrasepsi juga ada dua macam, yang sifatnya hormonal (suntik, susuk, pil) dan non hormonal (AKDR, kondom).
Seorang ibu yang ingin memilih metode kontrasepsi setelah lewat masa enam bulan, harus mengenali diri sendiri dulu. Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan adalah : kondisi kesehatan ibu seperti riwayat penyakit, riwayat kehamilan, riwayat persalinan, riwayat haid. Selain itu, yang tak kalah penting adalah factor umur, jumlah anak dan jarak melahirkan. Riwayat riwayat ini penting diketahui oleh ibu dan petugas kesehatan agar dapat memilih jenis kontrasepsi yang paling tepat.
Kemungkinan timbul efek samping akibat pemakaian alat kontrasepsi biasanya reaksi per individu. Ada ibu yang mimum pil lalu badannya jadi gemuk. Tetapi ibu lain yang sama sama minum pil tidak mengalami perubahan berat badan.
Jadi, keputusan untuk memilih metode apa yang paling tepat adalah dengan mempelajari riwayat kesehatan diri dan melihat system kerja dari alat kontrasepsi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar